Siapa yang tidak mengenal sang proklamator Ir. Soekarno, setelah 68 tahun Indonesia merdeka banyak hal telah terjadi di Indonesia. Ir. Soekarno dulu selalu menyampaikan salam kepada setiap warga negaranya dengan mengangkat tangan kanannya membuka kelima jemarinya sembari mengucapkan pekik "Merdeka" dengan suaranya yang lantang membakar semangat para rakyatnya. Soekarno selalu mengucapkan pekik "Merdeka" setiap mengawali pidato, dan sempat menyampaikan ke hadapan MPRS bahwa salam nasional kita adalah mengangkat kedua tangan dan membuka kelima jari sembari mengucapkan pekik "Merdeka" saat itu Soekarno menjelaskan arti dari kelima jari yang dibuka. Soekarno menjelaskan kelima jari yang dibuka bermakna kelima sila pancasila.
Dan memang terbukti kata-kata memiliki kekuatan besar, ini bisa kita lihat dari sejarah Negara Indonesia dalam mencapai kemerdekaan. Indonesia yang dulunya hanya bersenjata bambu runcing, belum memiliki sejata-senjata berteknologi tinggi rasanya mustahil untuk bisa bebas dari penjajahan. Namun dengan semangat persatuan dan kebulatan tekad yang diawali dengan pergerakan-pergerakan pemuda-pemuda bangsa sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Ir. Soekarno dengan kata-katanya dalam pidato selalu memekikan "Merdeka" dan pahlawan besar Jendral Sudirman dengan kata "Merdeka atau Mati" akhirnya negara Indonesia bebas dari penjajah.
Namun waktu cepat berlalu, 68 tahun sudah kita merdeka, hingga salam merdeka yang pernah dicanangkan oleh Ir. Soekarno sebagai salam nasional kini sudah tergerus jaman. Pejabat-pejabat negara mulai lupa akan konstitusi negara, kelompok-kelompok sparatisme mulai bermunculan, sila-sila pancasila dinodai dengan aksi-aksi anrkisme beberapa kelompok dalam melakukan demo. Terjadi konflik-konflik antar golongan, karena perbedaan agama, ras dan kepercayaan. Burung garuda yang mencengkram pita bertuliskan "Bhineka Tunggal Ika" lambat laun rasanya banyak orang kurang menyadarinya. Perubahan yang mulai terjadi karena salam nasional dan konstitusi mulai terlupakan. Memang kata-kata itu memiliki sebuah kekuatan.
Masalah yang menjerat di Indonesia saat ini salah satunya "Korupsi". Sebelum mencuatnya kasus-kasus korupsi di Indonesia karena aksi KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sebenernya banyak calon pemimpin bangsa mengatakan akan memberantas korupsi. Namun hal ini malah menambah jumlah pejabat yang terjerat kasus korupsi, seperti salah satu partai yang dulunya sangat ingin memberantas korupsi dengan selalu mengucapkan "Katakan Tidak Pada Korupsi" terus beberapa kadernya menjawab "Tidak" dalam iklan yang disampaikan sebelum partainya memperoleh jumlah suara terbanyak dalam pemilu. Hingga partainya menjadi partai penguasa dalam periode pemerintahan selama 10 Tahun, memang kata-kata memiliki kekuatan, tidak peduli itu kalimat negatif atau positif, maka apa yang terucap dan semesta akan memenuhi kata-kata itu sebagai doa. Terjadilah banyak kasus korupsi terkuang dimasa pemerintahan partai yang selalu memekikan "Anti Korupsi".
The power of word,, memang itulah nyatanya,, jika Indonesia ingin negara ini merdeka dari jeratan kemiskinan, konflik, krisis ekonomi dan krisis sumber daya manusia yang berkualitas. Ada baiknya Negara Indonesia ini menggali kembali sejarahnya dan mengambil makna dari perjuangan para pahlawan-pahlawan Negara dalam mengusir penjajah. Soekarno pernah mengatakan dalam pidatonya pada hari pahlawan 10 Nopember 1961 "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya". Dengan segenap doa dan rangkaian kata-kata semoga Indonesia merdeka sepenuhnya.
Semoga Rakyat sejahtera, beriman, berbudi luhur, bersatu, demokrasi, dan mendapatkan keadilan sosial.
Merdeka!!!!!



0 Komentar untuk "The Power of Word"