Bali adalah pulau seribu pura, seribu budaya dan adat. Bali memiliki konsep perlindungan lingkungan yang telah kita warisi dari leluhur orang Bali. Warisan budaya itu yang selalu dijaga masyarakat melalui perayaan-perayaan hari-hari suci yang merupakan bentuk kepedulian manusia terhadap alam. Berikut ini beberapa perayaan hari-hari suci sebagai aksi peduli lingkungan :
TumpekWariga
Hari Raya Nyepi
Ok itu beberapa aksi penyelamatan lingkungan dari bali, yang memang sudah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur, kini kita harus melestarikan dan mengapresiasi sebagai bentuk aksi peduli lingkungan!
TumpekWariga
Disebut juga hari raya Tumpek Uduh,
Tumpek Pengarah, Tumpek Pengatag, atau Tumpek
Bubuh dirayakan setiap enam bulan sekali. Hari ini adalah hari turunnya Sanghyang Sangkara
yang menjaga keselamatan hidup segala tumbuh- tumbuhan (pohon-pohonan).
Beliau memelihara agar tumbuh-tumbuhan itu subur tumbuhnya,
hidup dan terhindar dari hama penyakit, agar supaya memberikan
hasil yang baik dan berlimpah, melebihi dari yang sudah-sudah
dan hemat walaupun dipakai atau dimakan. Makna dari perayaan ini adalah untuk mengingatkan manusia agar selalu menjaga tumbuh-tumbuhan, seperti kita ketahui oksigen dan makanan dihasilkan oleh tumbuhan. Namun keserakahan manusia terkadang melupakan dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna diberikan pikiran yang bisa merusak atau ikut menjaga alam semesta. Dengan perayaan hari tumpek wariga selain ritual perlu juga diikuti dengan aksi menanam pohon.
Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali
dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua
kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara
Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta).Secara ilmiah dengan tidak adanya aktivitas yang berlebih maka manusia turut menjaga Bumi dari polusi udara dari karbondioksida yang berasal dari hasil metabolisme tubuh dan juga kendaraan bermotor, selain itu hari ini juga merupakan sebuah aksi penghematan energi. Dengan keadaan sunyi juga bermanfaat bagi otak manusia, karena gelombang otak menjadi lebih stabil sehingga kita akan merasakan kedamaian dalam keadaan sunyi tanpa polusi suara kendaraan bermotor. Hari perayaan nyepi ini juga sebagai bentuk toleransi kepada para binatang yang bersuara dan berlampu, seperti burung-burung dan kunang-kunang, dihari perayaan nyepi mereka akan merasa diperdengarkan dan berunjuk aksi dengan suara merdunya dan kelip cahaya lampu si kunang-kunang.
Ok itu beberapa aksi penyelamatan lingkungan dari bali, yang memang sudah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur, kini kita harus melestarikan dan mengapresiasi sebagai bentuk aksi peduli lingkungan!
0 Komentar untuk "Aksi Peduli Lingkungan Warga Bali "