Detik tiap detik terus berjalan hanya memutar 3600
rasanya jarum jam itu tak akan pernah
melampaui jalurnya. Dia patuh akan kodratnya hanya berputar dari satu putaran
berulang-ulang tanpa rasa jenuh, aku hanya bisa memandang hingga mataku
ngantuk. Sesekali aku terasa seperti dalam mimpi dibuat oleh buku yang aku baca
ini. Sedikitnya laksana sebuah buku sejarah namun dia memiliki alur, percakapan
dan kisah roman layaknya novel. Terselip kata-kata mutiara yang bisa menjadi
sebuah panduan hidup, dan pembenaran atas tingkah laku yang kita perbuat di
bumi. Sesekali aku berganti posisi duduk sambil membaca buku ini, pantat yang
kurus ini merasakan capek karena menahan berat badan tubuh ini. Aku teruskan
membaca hingga waktu pulang tiba, ini perpustakaan yang sepi dengan buku-buku
yang tertata rapi, para pengunjung hanya datang untuk mencari ilmu untuk
menyelesaikan tugas kuliahnya bukan untuk menuntut ilmu.
Pegawainya ramai berbincang-bincang, masih muda dan
sepertinya membicarakan hal-hal yang bermuatan cinta, mungkin lagi mencari
jodoh. Sesekali aku hilangkan penat dengan menulis, merenungkan apa kiranya
yang bisa aku tulis sebagai pekerjaan untuk keabadian itu kata Pramudya Ananta
Toer. Dia sesekali memberikan aku nasihat dari karya-karya sastra yang
dibuatnya, memang benar katanya “menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Dia
telah membuktikannya sendiri, walaupun dia telah tiada di Bumi namun namanya
tetap melekat di hati masyarakat yang menggagumi hasil karya sastra buatannya.
Menulis memang selalu kita temukan sedari awal
belajar menulis hingga pendidikan formal sampai level sarjana. Rasanya selama
kita masih bernaung di dunia pendidikan selama itu kita akan belajar dan
dituntut untuk menulis. Namun aku tidak sedang berada dalam fakultas sastra
yang diajarkan bagaimana cara menulis dan menghasilkan karya yang baik sesuai
aturan EYD bahasa Indonesia. Menulis bukanlah pekerjaan mudah Pramudya Ananta
Toer juga menyelipkan nasihatnya dalam roman karyanya “menulis memerlukan
keberanian….”, mungkin kita harus berani salah menulis karena melanggar aturan
dan menerima kritikan untuk memperbaiki kembali apa yang telah tertulis.
Kalau tidak pernah membaca bagaimana kita menulis,
mungkin kita punya hayalan namun untuk membuat karya sastra kita tidak bisa
hanya mengandalkan hayalan, apalagi karya ilmiah. Perpustakaan ini masih sepi
tidak ada kesibukan orang sedang membaca, ada beberapa orang lalu lalang
membawa buku, meminjam buku, dan memotret isi buku dan rasanya raut mukanya
terbebani tugas akhir untuk menyandang gelar kesarjanaanya. Aku memadang
suasana sepi ini, kemudian berpikir bagaimana dia menulis tanpa membaca. Waktu
sudah mendekati waktu pulang, detik jarum jam rasanya sudah memberikan aku
signal untuk cepat-cepat beranjak dari tempat duduku, merapikan buku-buku yang
aku baca dan beranjak untuk memulai aktivitas yang telah menunggu. Langkah
kakiku dan harapanku perpustakaan ini akan semakin ramai dengan para pembaca
hingga akan banyak karya tulisan ilmiah entah itu penelitian atau sebuah
rangkuman hasil penelitian sehingga kualitas pendidikan akan semakin terasa,
memberikan sumbangan yang nyata bagi yang memerlukan panduan untuk berbuat yang
terbaik.
0 Komentar untuk "MEMBACA DI SUDUT PERPUSTAKAAN YANG SEPI"